Memahami "Sikap Baik" yang Sesuai dengan Kesehatan Mental

Ada dua perbedaan yang mendalam tentang menjadi orang baik dan menjadi baik untuk menyenangkan orang lain. Orang baik tentu membawa banyak manfaat dalam kehidupan. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah institusi Sumber Daya Manusia di Amerika menunjukkan bahwa perilaku sopan dan ramah akan menularkan kebaikan. Hasilnya orang lain juga akan membalas kebaikan tersebut kepada orang lainnya.

Tetapi, ada perbedaan yang mendalam antara perbuatan baik dan menjadi baik hanya untuk menyenangkan orang lain (pleaser). Perbuatan baik penting dilakukan untuk menciptakan kondisi yang nyaman. Tetapi, tindakan yang hanya untuk menyenangkan orang lain, hanya akan menggerogoti diri sendiri.

Berikut ini beberapa pandangan yang dapat menjelaskan tentang sebuah sikap baik yang dapat membahayakan kehidupan kita.

Pandangan Psikologi

Menurut psikologi, orang yang hanya ingin menyenangkan orang lain adalah cenderung menjadi pembohong. Hal tersebut berlaku jika kita tidak benar-benar menyadari tentang makna dari sikap baik kita. 

Psikologi menelaah dunia alam bawah sadar manusia dimulai sejak masa kanak-kanak hingga orang tersebut menjadi dewasa. 

Di masa kecil, anak-anak diajarkan untuk mengetahui perasaan orang lain melalui reaksi orang tua. Orang tua menjadi pusat dari pembelajaran. Ketika marah, maka kita meminta maaf dan tidak melakukannya lagi. Ketika senang berarti kita melakukan tindakan yang tepat.

Tetapi, dalam proses menjadi dewasa, dunia menjadi semakin kompleks. Seorang anak akan merasa banyak kehilangan. Kehilangan teman yang pindah ke kota lain. Kehilangan masa bermain karena semakin banyak tugas sekolah, dan berbagai macam kehilangan yang lainnya. Rasa kehilangan ini dapat tertanam dalam sebuah kekecewaan dan melekat dengan diri seseorang. Sehingga, dampaknya adalah anak tersebut belajar untuk menyenangkan orang lain hanya untuk menghindari rasa kehilangan yang berulang-ulang dalam proses pertumbuhan.

Kegagalan dalam memahami apa yang sedang terjadi dalam dunia orang dewasa menjadikan seseorang hanya akan mengulangi pemahaman masa kanak-kanaknya.

Padahal realitanya, dunia orang dewasa sangat sulit untuk dimengerti sebagaimana hitam dan putih. Kemarahan orang lain bukan berarti selalu menjadi kesalahan kita. Bisa saja orang tersebut memang tidak dapat mengendalikan emosinya. Sehingga permasalahan sepele menjadi dibesar-besarkan. 

Perasaan untuk takut berbuat salah menjadikan kita terperangkap dalam dunia yang bertujuan untuk menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, perilaku dan tindakan kita akan selalu berujung pada sebuah tindakan yang semakin menjauh dari diri kita yang sebenarnya.

Pandangan sosial

Dalam perspektif sosial, orang yang selalu menyenangkan orang lain biasanya memiliki banyak teman. Tetapi, dampak lain yang muncul adalah dengan banyaknya teman dapat menguras energi dan tenaga kita. Tugas dan tanggung jawab kita akan terbengkalai

Semakin sederhana hidup, semakin tenang dalam menjalaninya

Memiliki teman untuk berbagi emosi memang baik. Tetapi, teman yang baik akan memahami kesibukan orang lain. Selain itu, seorang yang benar-benar teman akan mendukung satu sama lain untuk sebuah perbaikan.

Pakar Sosiologi membuktikan bahwa seringkali perbaikan karier diawali dari perjumpaan dengan orang yang tidak dikenal. Aliran informasi tentang karier dengan gaji yang bagus biasanya diperoleh di luar dari teman terdekat kita. Fenomena tersebut dikenal dengan strength of the weak ties atau dapat dipahami dengan manfaat dari jaringan yang tidak terlalu dikenal.

Teman-teman dekat kita hanya akan membagikan informasi yang sama secara berulang-ulang dengan topik diskusi yang sama. Oleh sebab itu, eksplorasi ke dunia yang jauh lebih luas itu dapat memberi dampak positif.

Memikirkan untuk memperbaiki kehidupan kita dan memperbesar jaringan di luar dari yang sudah kita kenal bukanlah sebuah penghianatan. Pada dasarnya, pandangan sosial memahami bahwa perbaikan tersebut adalah hak setiap orang. Tergantung kita mau melakukannya atau tidak. 

Kemudian, bagaimanakah sebuah perbuatan baik yang tidak mengganggu kesehatan mental dan emosi kita?

Kamu berhak untuk mengatakan yang sesungguhnya.

Jadilah dirimu sendiri. 

Untuk menjadi diri sendiri, kamu harus memikirkan dan merencanakan dengan baik tentang kenapa saya mau melakukan hal tersebut? Ketika kamu telah menemukan jawabannya, maka berusahalah untuk mencapainya. Dengan demikian kamu akan menjadi orang yang memiliki sebuah fokus dalam hidup.

Selanjutnya, ungkapkan dengan jelas tentang apa yang kamu rasakan. Memang awalnya berat. Terlebih lagi jika kita terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan. Orang yang tidak mengerti akan menganggap kita egois. Tetapi, ada perbedaan yang mendasar antara egois dan berfokus untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tidak perlu terlalu takut dalam mengungkapkan apa yang menjadi perasaanmu. Dan sampaikanlah secara santai tanpa penuh emosi atau penghakiman.

Karena menjadi orang baik tidak selalu harus menyenangkan orang lain.

Give and take adalah kuncinya

Memberi dan menerima adalah sebuah kunci dalam kehidupan. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang baik cenderung berada pada posisi rendah dalam hal karier. Sebaliknya orang yang dianggap egois sering berada pada posisi kunci.

Fakta tersebut adalah setengah benar. Karena banyak orang baik dan dermawan yang juga berada pada posisi puncak dalam hal karier dan memiliki capaian yang tinggi. 

Orang baik yang juga memikirkan kepentingan dirinya sendiri, cenderung memiliki capaian yang tinggi. Oleh sebab itu, pusatkan pengambilan keputusan kita pada memberi dan menerima. Seperti contohnya, kebaikan yang kita lakukan dalam hal bersama-sama membersihkan lingkungan rumah. Kita tidak menerima upah, tapi tujuan kebaikan bersama adalah kita menjadi hidup lebih sehat.

Perbuatan baik yang dirasa terlalu menguras tenaga adalah sebuah gejala kebaikan yang tidak sehat bagi mental dan capaian kita.

Sehingga pikirkanlah kembali, makna dari tujuan dan perbuatan baik kita. Jika hanya untuk menyenangkan orang lain, waspadalah akan gejala emosi kita yang menunjukkan ketergantungand dengan orang lain. Jika perbuatan baik kita dimaksudkan untuk sebuah tujuan perbaikan dan memberikan manfaat untuk kita, lakukan komitmen tersebut.