Kecerdasan Emosi, Rasa Percaya Diri dan Kesuksesan

  • Pentingnya menyadari kecerdasan emosi;
  • Emosi serta hubungannya dengan kinerja, perilaku, dan kesehatan mental;
  • Rasa percaya diri yang dilandasi oleh kestabilan emosi;
  • Tips melatih percaya diri.

Kecerdasan emosi merupakan hal yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup kita. Mengelolanya dengan baik akan berdampak pada karier serta kehidupan kita.

Ahli psikologi menggolongkan emosi manusia kedalam lima kategori utama, mulai dari sedih, marah, takut, senang dan malu. Lebih jauh lagi, jika dijabarkan lebih rinci, maka kalut, riang, ataupun cemas adalah turunan dari salah satu di lima kategori utama tersebut.

Emosi tersebutlah yang juga menuntun kita dalam merespon dan menghadapi kejadian-kejadian yang menimpa kita. Misalnya, saat menerima penolakan maka reaksi kita dapat berupa kecewa, marah, sedih, tetap berpikir positif ataupun biasa saja. Respon tersebut didasari atas emosi atau perasaan yang dapat menuntun kita untuk melakukan sesuatu.

Bayangkan jika seseorang sedang kecewa kemudian menjadi marah-marah tanpa kendali. Meskipun seseorang berpendidikan tinggi, ketidakmampuannya dalam mengendalikan emosi akan menjatuhkannya seketika. Orang tersebut dapat dikatakan telah mengalami sebuah kondisi yang disebut emotional hijacking atau pembajakan emosi.

Pembajakan emosi merupakan situasi di mana emosi kita telah mengambil alih tindakan atau perbuatan kita. Banyak orang mengalami kegagalan dalam kariernya ataupun pertemanan ketika tidak dapat mengendalikan emosinya. Sehingga keputusan yang diambil menjadi tidak terarah.

Sebuah penelitian menjelaskan bahwa IQ atau kecerdasan manusia yang tinggi tidak selalu membawa pada kesuksesan. Selain itu, pendidikan yang tinggi juga tidak selalu menjamin semuanya. Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan biasa ataupun menjalani pendidikan formal yang biasa saja tetapi memiliki kontrol emosi yang baik, karier ataupun capaiannya dapat melebihi mereka yang memiliki kecerdasan tinggi.

Kontrol emosi tersebutlah yang menjadi latar belakang dalam manusia mengambil keputusan, mengangkat karier seseorang dan menjatuhkannya meskipun dengan berbagai macam jabatan dan pendidikan yang dimilikinya.

Kecerdasan Emosi dan Rasa Percaya Diri

Begitupun dengan rasa percaya diri, sebuah kata sifat yang dibangun melalui pondasi emosi yang dipengaruhi oleh otak kita. Tidak mudah untuk mengalami penolakan atau kegagalan berkali-kali, seperti jika pekerjaan anda dalam bidang penjualan.

Orang yang mampu mengelola emosinya dengan baik dapat bangkit lagi dan menemukan percaya diri kembali. Sebuah studi juga menyatakan bahwa hubungan antara income atau pendapatan serta perbaikan karier dengan kecerdasan emosi memiliki hubungan positif atau berpengaruh secara langsung.

Mengapa demikian? salah satu alasan adalah sikap kita sangat mempengaruhi penerimaan orang lain dan menentukan apakah mereka akan percaya kepada kita atau tidak. Dengan respon yang tepat saat menerima sebuah berita negatif (penolakan, ketidaksenangan, pengabaian, dst.), maka kita telah meninggalkan kesan yang baik. Siapa yang tidak senang bekerja dengan orang seperti itu? Semua akan menghargai kita karena kita juga menghargai orang lain atas keputusan yang telah mereka ambil.

Dua orang pakar psikologi, Travis Bradberry dan Jean Greaves, di bidang kecerdasan emosi memiliki kabar baik. Kabar baiknya adalah kecerdasan emosi tersebut dapat dipelihara atau dikembangkan. Tetapi sebelum itu, kita perlu mengenali apa saja kecerdasan emosi tersebut.

Struktur manusia yang terdiri dari kecerdasan emosi (EQ), kepintaran (IQ) dan karakter atau kepribadian (personaliti).
sumber: Bradberry dan Greaves.

Keduanya mengidentifikasi dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola kecerdasan emosi. Pertama adalah kompetensi personal. Kompetensi personal adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Kemampuan ini terdiri dari dua hal yaitu kesadaran diri dan manajemen diri.

Kompetensi personal: Kesadaran diri; dan Manajemen diri.

Pentingnya pengenalan diri bukan hanya sekedar mengetahui nama kita ataupun alamat kita. Namun lebih dalam daripada itu, pengenalan diri membutuhkan usaha untuk mengenali emosi kita saat mengalami suatu hal.

Apakah kita cenderung bahagia yang berlebihan dan menghambur-hamburkan uang saat sedang sedih ataupun senang? Apakah kita marah secara berlebihan tanpa melihat sisi positif dari penolakan? Emosi yang naik turun inilah yang kemudian membutuhkan sebuah kemampuan untuk pengendalian diri atau manajemen diri.

Begitu juga dengan sebuah rasa tidak percaya diri. Hal tersebut dapat disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam melihat nilai dalam diri kita. Kita mungkin salah dalam merespon penolakan. Oleh karena itu pengenalan diri merupakan pondasi penting untuk membangun rasa percaya diri kita.

Karena kita tidak akan berfokus pada emosi sesaat, melainkan melihat gambaran besar kejadian yang sedang kita alami. Dengan demikian, kita dapat menenangkan diri kita dan tidak serta-merta memberi hukuman atas sebuah kejadian buruk yang menimpa.

Kedua adalah kompetensi sosial. Kompetensi sosial terdiri dari kesadaran sosial dan manajemen diri dalam berhubungan dengan orang lain. Kesadaran sosial adalah sebuah kemampuan untuk memahami apa yang sedang terjadi dengan orang lain dan dapat meresponnya dengan tepat.

Kompetensi Sosial: Kesadaran sosial; dan manajemen dalam berhubungan dengan orang lain.

Pada kenyataannya, mengasah kompetensi sosial tidak semudah yang dibayangkan. Dalam sebuah kerja tim misalnya, kinerja kita juga akan mempengaruhi kinerja orang lain (begitu juga sebaliknya). Masalah dapat muncul ketika ada salah seorang yang memberikan kritik terhadap kita karena kita menyebabkan targetnya tidak tercapai. Sehingga juga mempengaruhi kinerja divisi lain.

Orang dengan kompetensi sosial yang baik akan belajar memahami sebuah situasi yang terjadi dan tetap membawa suasana menuju kearah perbaikan. Meskipun, kita tahu bahwa di dalamnya terdapat saling kritik satu-sama lainnya.

Seorang pribadi yang memiliki kompetensi sosial baik akan berfokus pada masalah bukan pada perseorangan atau menyerang kepribadian. Apabila mengetahui seseorang yang memancing emosi kita, maka yang dilakukan adalah tetap fokus pada penyelasain permasalahan utama, bukan pribadi. Terpancingnya emosi sesaat dapat menjatuhkan dan merusak semua pondasi yang telah dibangun seketika.

”Belajarlah untuk tetap tenang dan terus melihat perkembangan, karena tidak semua hal membutuhkan reaksi sesaat kita”

-Anonymous-

Percaya Diri dan Kesuksesan

Dengan memahami betapa pentingnya kecerdasan emosi dan dampaknya terhadap rasa percaya diri kita, maka bukan tidak mungkin jika menguasainya mampu membawa kita pada kesuksesan.

Dalam kata lain, kurang memiliki percaya diri adalah pertanda bahwa kita masih perlu memperbaiki pengelolaan kecerdasan emosi kita. Berita baiknya adalah, kecerdasan emosi dan rasa percaya diri dapat dilatih untuk terus dikembangkan.

Berikut ini redaksi IDNYouth mencoba untuk merangkum tips untuk menjaga rasa percaya diri:

Fokuskan pada tujuan

Rasa percaya diri sangat dipengaruhi oleh tujuan kita. Apabila kita yakin bahwa tujuan kita tepat, maka tidak mudah untuk meruntuhkan rasa percaya diri tersebut.

Fokus pada solusi

Segala langkah yang kita tempuh akan memiliki tantangan. Apabila kita hanya berfokus pada kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, akan mempengaruhi secara negatif tujuan kita dengan mudah.

Tetapi, apabila kita berfokus pada solusi, hal tersebut terasa lebih menyenangkan. Perasaan saat kita mampu menghadirkan solusi, meskipun hanya sedikit, lebih berharga daripada tantangan itu sendiri.

Perhatikan kekuatan kita

Terkadang kita selalu menemui bahwa kelemahan kita selalu membawa pada kondisi stagnan. Tetapi sebaliknya, kita selalu gigih untuk melakukan perbaikan. Bukan tidak mungkin kita akan mencapai tujuan jika kita fokus untuk merawat apa yang kita miliki.

“Saya sadar pendidikan saya tidak tinggi, saya hanya ingin mengapresiasi kesempatan yang telah diberikan” (Menteri Susi)

Berpikir positif

Memang tidak semua hal harus direspon dengan berpikir positif. Kita masih membutuhkan emosi lainnya yang tidak mungkin untuk dihilangkan. Berpikir positif dilakukan sebagai penyeimbang kita agar tidak terlalu khawatir, marah, dan berbagai reaksi berlebihan lainnya. Sehingga tidak terbawa oleh emosi yang meledak-ledak.

Hindarilah membandingkan

Untuk menjaga percaya diri kita pada kadar yang cukup, jangan terlalu sering untuk membandingkan dengan orang lain. Masing-masing individu berada pada waktu dan momen yang berbeda.

Tidak ada tujuan yang instan

Sadarilah bahwa semua membutuhkan waktu. Baik itu mengelola emosi ataupun mengasah rasa percaya diri. Cobalah untuk menerapkan hal-hal positif dan jangan ragu untuk melakukannya. Waktu yang akan menjawabnya.