Mengelola Masalah

Nadiem Makarim, founder Go-Jek, pernah berbagi pengalaman dalam memulai sebuah bisnis. Dalam sebuah sesi wawancara dia menjelaskan bahwa pentingnya untuk mendalami masalah sebagai motivasi untuk memulai sesuatu, baik itu bisnis atau kegiatan tertentu. Menurutnya, profit dan keberhasilan itu tergantung seberapa besar bisnis dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah.

Maka, masalah sebetulnya menyimpan sebuah kesempatan untuk menuju keberhasilan. Namun kita perlu memahami sebuah potensi tersembunyi dalam sebuah permasalahan yang muncul.

Mark Manson penulis buku yang juga mempelajari psikologi menjelaskan bahwa manusia tidak dapat terlepas dari masalah. Secara alamiah otak manusia selalu berada dalam penemuan masalah baru dalam setiap keputusan yang diambil.

Apapun situasinya masalah akan selalu muncul. Maka dari itu, memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang disukai menjadi bagian penting dalam memotivasi agar tidak mudah menyerah.

Tetapi, terkadang penemuan masalah menjadi terhambat karena kita melihatnya sebagai sebuah kebiasaan. Dalam menghindari hal itu, pentingnya penemuan masalah dapat bermula dari rasa empati.

Orang yang mampu memimpin, baik dalam kegiatan ekonomi atau sosial, dan menghadirkan solusi dalam sebuah situasi permasalahan akan terus mempertanyakan tentang kondisi sekitar dengan menggunakan rasa empati (apakah tidak bisa lebih baik? Kenapa orang harus menderita dalam memenuhi kebutuhan yang dicarinya?). Dia tidak berhenti begitu saja atas apa yang terjadi.

Fokus

Setelah menyadari ada sebuah permasalahan, hal selanjutnya adalah mendedikasikan diri untuk hal-hal yang kita ingin capai berdasarkan prioritas. Banyak orang sukses yang menyarankan untuk menuliskan sebanyak mungkin daftar 25-50 hal yang ingin dicapai dan kemudian diurutkan dalam skala prioritas. Setelah itu, ambil lima (5) teratas dan cobalah untuk merealisasikannya.

Galilah solusi secara lebih mendalam dan melihat peluang apa yang dapat dimanfaatkan, apa yang dapat dibuat, bagaimana membuatnya sampai dengan bagaimana merealisasikannya. Mental yang seperti inilah yang perlu terus dibangun agar menjadi pribadi yang sukses.

Gigih (perseverance)

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita semua berada pada sebuah titik di mana seolah tidak ada cahaya di sana. Dalam kondisi ini, kita akan menjadi putus asa.

Jika demikian, tanyalah pada diri sendiri, Apakah kita memang benar-benar ingin menjadi solusi dalam permasalahan tersebut? Jika jawabannya YA, maka teruslah untuk melakukannya meskipun hanya hal sederhana. Namun jika jawabannya tidak, maka beralihlah kepada fokus yang lain.

Ingatlah: orang yang berhasil menyelesaikan masalah adalah mereka yang memang menyukai bidang atau masalah tersebut.