Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

Negara Jepang diakui atas kemajuan teknologi dan penduduknya yang banyak melakukan inovasi sehingga mereka dikenal dengan sebuah kesempurnaan dan totalitas dalam menghasilkan sebuah karya.

Sebaliknya, ada sebuah konsep dalam Bahasa Jepang yang menjelaskan tentang sebuah ketidaksempurnaan dalam hidup. Seringkali kita telah banyak merencanakan sesuatu, namun ternyata yang terjadi tidaklah sesuai dengan harapan.

Untuk itu, perlu pemahaman dan sikap yang baik untuk menghindari perilaku-perilaku negatif. Terlebih lagi jika perilaku negatif tersebut dapat menjadikan kita berlarut-larut dalam penyesalan dan tidak melihat sisi lain dari kehidupan.

Mengacu pada konsep Wabi Sabi, kata tersebut dapat dipahami melalui berbagai macam perspektif untuk diterapkan dalam kehidupan. Penerapan konsep tersebut mengajak kita untuk melihat sisi lain atas apa yang kita alami. Berikut ini berbagai macam manfaatnya.

Tidak menyia-nyiakan

Seringkali kita membuat kesalahan, seperti misalnya menjatuhkan vas bunga. Tahukah jika kita sebenarnya masih bisa mengapresiasi sesuatu yang sudah terlanjur berserakan dengan merekatkannya kembali. Kesenian Jepang terkenal dengan gaya alamiahnya. Unsur alami tersebut menyatukan perpaduan antara usaha manusia dalam membentuk dan mengkreasikan sesuatu dan hal-hal yang berada di luar kontrol yaitu alamiah.

Gaya natural atau alamiah dalam kesenian inilah juga terinspirasi oleh konsep wabi sabi. Tidak ada yang sempurna, maka janganlah sia-siakan hal yang tidak sempurna tersebut.

Jika kita mampu melihat ketidaksempurnaan tersebut dan mau untuk merawatnya, maka kita mampu untuk memanfaatkan hal-hal yang dianggap “terbuang” itu. Daripada membuangnya dan menghabiskan waktu begitu saja, kenapa tidak mencoba untuk menghasilkan sesuatu dari hal yang tidak sempurna?

Penerapan konsep dari Wabi Sabi dalam berbagai sisi kehidupan mampu menjadikan kita untuk berpikir kreatif. Fokus yang kita butuhkan adalah manfaat dari kejadian yang kita alami, bukan perasaan negatifnya. Dengan demikian, maka kita telah mencoba untuk mengambil keuntungan dari kesusahan yang kita alami.

Bukannya melarang untuk bersedih, marah, ataupun kecewa yang merupakan sifat alamiah dari manusia. Namun jika kita fokuskan amarah kita dan kekecewaan kita pada karya seni misalnya, kita akan tumbuh menjadi orang yang mampu mengelola perasaan tersebut.

Mengapresiasi kesederhanaan

Jepang juga terkenal dengan kesederhanaannya. Tetapi kesederhanaan tersebut tidaklah menjadi sesuatu yang murahan. Kesederhanaan yang dihasilkan dari ketidaksempurnaan mampu menghasilkan sesuatu yang elegan .

Wabi sabi dalam membentuk kesederhanaan dihasilan atas kemampuan kita dalam mengelola perasaan atau kejadian negatif yang kita alami. Bukannya melupakan, namun perasaan berapi-api yang sedang terjadi pada diri kita perlu penyaluran yang lebih baik.

Tahap awal penyaluran emosi tersebut biasanya masih berantakan dan terlalu rumit untuk dipahami. Tetapi, jika kita memberikan waktu untuk memperbaikinya maka bukan tidak mungkin kita akan menghasilkan sesuatu yang elegan nansederhana. Sehingga juga menghasilkan sesuatu karya yang indah.

Tidak perlu menjadikan sesuatu terlalu rumit jika sebenarnya kita mampu untuk membuatnya secara sederhana. Tetapi, sederhana bukan berarti tidak mau berusaha. Sebaliknya, sebuah pemikiran yang mendalam untuk menghasilkan sebuah karya elegan nan sederhana butuh banyak pemikiran.

Kedua manfaat dari konsep wabi sabi diatas merupakan sebagian kecil dari penjabaran dan penerapannya. Ada banyak penulis yang telah mengartikan dan menerapkan konsep tersebut dalam bidang kehidupan, seperti membangun keluarga, memahami partner atau teman hidup yang memang tidak pernah sempurna. Tetapi kita harus mengapresiasi apa yang telah terjadi.

Pernahkah menerapkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari? apa contohnya? dan bagaimana hasilnya? bagilah pengalaman yang anda miliki pada kolom komentar.