Merangkul kembali Papua: dalam kerangka humanisme

Apa yang terjadi dengan masalah rasisme yang diterima oleh mahasiswa Papua merupakan sebuah pembelajaran yang sangat penting. Ada persoalan mendalam dalam kehidupan bermasyarakat. Terlebih lagi menyangkut dengan kehidupan bernegara. Ini berawal dari ujaran kebencian dan rasisme yang diterima oleh mahasiswa Papua. Ketika melihat lambang negara dilecehkan di depan asrama mahasiswa Papua. Maka secara reaktif mereka dihakimi tanpa memberikan ruang untuk konfirmasi selayaknya asas praduga takbersalah.
Di lain tempat, secara masif reflek dari orang di berbagai wilayah di Papua adalah turun ke Jalan. Menunjukkan solidaritas mereka terhadap mahasiswa yang Jumlahnya minoritas dan diperlakukan menggunakan power atau kekuasaan mayoritas.

Banyak pendekatan untuk memahami masalah ini, tetapi mari kita mencoba berkaca dalam sudut pandang hubungan bermasyarakat: 1. Kecurigaan; 2. Kebencian; 3. Ketidaktahuan dalam bersikap dengan antar kelompok.

Kecurigaan

Kecurigaan tumbuh karena banyak faktor. Ini dapat bermula dari persepsi umum tentang sekelompok orang yang diperoleh dari media mainstream. Media masa berperan penting dalam membangun persepsi masyarakat. Berita yang diangkat di media masa tentang orang Papua kebanyakan tentang gerakan separatis, ketertinggalan (apa memang benar mereka tertinggal? Atau itu memang gaya hidup mereka dalam melestarikan budaya? Kalau ya, kita seharusnya patut berterima kasih kepada mereka), keterisolasian dalam berbagai bentuk permasalahan sosial, dan segala bentuk persepsi negatif lainnya.

Inilah yang dijadikan bisnis oleh media (yaitu menemukan sesuatu yang tidak biasa) dan membangun persepsi masyarakat. Hasilnya, ketika menemui atau berhadapan dengan orang Papua secara langsung, menghasilkan sebuah tindakan yang reaktif karena dipengaruhi pengalaman dari media masa dalam membentuk citra masyarakat Papua. Tanpa mencoba untuk menelaah atau memahami dan berkomunikasi. Tentu kurang adil, terlebih lagi jika yang dilakukan adalah dengan cara kekerasan, ujaran kebencian ataupun diskriminasi. Mereka berhak bertanya, apa salah saya? Mengapa saya kalian rendahkan? Tidak adakah ruang untuk klarifikasi? Kenapa kalian bawa militer untuk mengepung kami?

Kebencian

Semua memiliki persepsinya masing-masing. Bagi orang Papua mungkin mengutarakan sebuah pendapat secara persuasif itu bukan sebagai kebiasaan. Atau memang persuasif orang Papua adalah dengan melalui sebuah tuntutan yang meminta keputusan fundamental? atau persuasif orang Papua adalah menunjukkan kekejaman militer yang memaksa mereka untuk menelan nasionalisme? Jika jawabannya ya, maka siapapun itu harus menerima bahwa tuntutan orang Papua sebenarnya mereka ingin diperhatikan. Bagaimana jika dalam memahami tindakan orang Papua itu dapat dilakukan dengan jalan Humanis? Bukan melalui kecurigaan separatis, yang biasa dijual oleh media Mainstream? Mungkin hasilnya akan berbeda. Orang akan lebih mendekat dan peduli jika mereka menuntut sesuatu.

Perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah gesekan. Karena perbedaan cara pandang yang belum tentu kita mengerti satu sama lain, kemudian berakibat pada munculnya kebencian. Semakin jauh menuntut dan menyuarakan, semakin membuat geram jika hanya difokuskan pada tuntutan. Bukan memahami dari sudut pandang: NILAI apa yang sebenarnya dibawa?

Fokus hanya pada masalah tindakan luar tanpa memahami apa yang ada dibalik itu akan berujung pada sebuah kebencian mendalam. Nasionalis akan bergerak menuju Ultra-Nasionalis yang menghakimi kelompok minoritas. Sementara nilai humanis yang dibawa oleh kelompok minoritas akan berubah menjadi sebuah rasa sakit hati yang mendalam jika mereka selalu dipersepsi negatif.

Bukankah negara ini yang memutuskan merdeka melawan penjajahan juga dulu disebut kelompok separatis? Tetapi jika memahami gerakan kemerdekaan Indonesia melalui sudut pandang melawan bentuk diskriminasi dan ketidakadilan, baik ras, suku, agama, maka adakah baiknya kita bercermin dari kelompok minoritas yang sering dipersepsi buruk sebagai separatis? Sudahkah kita mempelajari nilai mereka secara mendalam tentang apa yang sebenarnya ingin disuarakan?

Era Post-Kolonial itu bukanlah Ultra-Nasionalisme, tetapi Humanisme.

Nasionalisme adalah penting untuk melindungi, merekatkan, serta memajukan bangsa. Tetapi nasionalisme yang berlandaskan pada perspektif patron militer akan berujung pada perilaku represif dan menutup jalan keterbukaan dalam berdialog dalam wilayah sipil.

Walaupun, sebagai bagian dari warga negara, militer berperan penting dan menjadi role model atau panutan karena mereka tidak akan menanyakan kesetiaan dalam kehidupan bernegara.

Tetapi sebagai warga sipil yang berasaskan egaliter, humanisme lebih penting daripada doktrin hierarki. Bukankah sipil tidak ada hierarki? Jika sudut pandang hierarki terus digunakan dalam menyikapi perbedaan, maka masing-masing pihak akan saling menunjukkan dominasinya. Merasa masing-masing etnis telah berkontribusi lebih banyak dalam perjuangan kemerdekaan dan melihat kelompok lain secara sebelah mata.
Memang NKRI harga mati, tapi apakah kita akan membenci orang yang menyuarakan ketidakadilan dan kesetaraan? Negara kesatuan merupakan sebuah capaian. Tetapi itu diperoleh dari hasil terbinanya hubungan antar kelompok dengan baik.

Ketidaktahuan dalam berinteraksi

Nasi sudah menjadi bubur, ucapan yang menyakitkan sudah terlontar seperti peluru yang menyentak hati nurani. Namun tanpa merefleksi apa esensi dari peristiwa ini, maka kita terus akan melakukan kesalahan yang sama.

Ada beberapa poin dalam interaksi. Perbedaan nilai bukan merupakan sebuah permasalahan. Karena nilai berasal dari perbedaan cara pandang maka ada baiknya berbagai hal yang menyangkut patron atau hierarki dalam interaksi diminimalkan. Ada baiknya kita mulai belajar lagi tentang berperilaku dan berujar dengan sesama. Bertanyalah pada diri sendiri, apakah pertanyaan atau perkataan saya akan menyinggung orang lain jika saya menanyakan hal tersebut? Jika menanyakan hal yang sensitif, berikan konteks atau alasan mengapa saya ingin bertanya hal tersebut. Dan yang lebih penting lagi, hindarilah perilaku atau sikap judgemental atau menghakimi, meskipun hanya melalui candaan.

Kemudian, cobalah mengerti perbuatan orang lain. Meskipun terlihat menyinggung kebaikan komunal seperti persatuan, namun ada baiknya jika memberikan ruang bagi orang lain dan belajar memahami nilai-nilai yang mereka bawa. Ini berat memang dan bukan perkara yang cepat. Mungkin butuh lima sampai sepuluh tahun untuk terbiasa dan menerima perbedaan nilai. Tetapi bagaimana jika Nasionalisme dalam sudut pandang humanisme ini yang dibutuhkan?