Pengrajin batik muda, sang Kembang Mulyo dari Jepara

Pilihan untuk menjadi pengrajin, terutama ditengah jaman otomasi dan serba digital, bukanlah menjadi pilihan utama bagi banyak anak muda. Tantangan yang dihadapi pun juga banyak. Industri manual atau buatan tangan kurang dilirik di pasaran karena dianggap berbiaya tinggi, repot dan dianggap tidak kompetitif.

Tetapi, jangan salah di banyak negara maju, buatan tangan target utamanya adalah pasar menengah keatas jika benar-benar berkualitas. Sebagai contohnya mobil mewah Bugatti Veyron atau alat musik klasik dan tradisional yang dibuat dengan hand-made berkualitas. Produk tersebut merupakan barang buatan tangan yang memiliki ke khas-an dan bernilai seni serta sulit diduplikasi tetapi ada standar baku industri disana (baca juga: https://www.hipwee.com/style/tas-lokal-ikut-pameran-di-moskow/).

Oleh karena itu, tidak heran jika kerajinan tangan yang berciri seperti ini harganya jauh melebihi buatan yang diperuntukkan industri dengan target jumlah. Karena penikmat industri kerajinan bukan sembarang orang, tetapi mereka yang memang mencari sebuah kualitas dari sebuah karya seni dan budaya.

Bagi anak muda Indonesia yang memberanikan diri untuk fokus di dunia hand-made atau kerajinan, menjadi sukses bisa diraih dengan cara ini. Sukses melestarikan budaya dan juga kelangsungan hidup sebagai mata pencaharian.

Seperti di kesempatan kali ini, tulisan ini menarasikan tentang seorang pemudi yang menekuni dunia batik tulis sebagai mata pencaharian. Seperti kebanyakan karier, yang apapun itu sudah pasti ada tantangannya. Pengrajin seperti Mbak Lina, sang pembatik Kembang Mulyo, mulai mendedikasikan di dunia batik sejak tahun 2011.

Setelah menjadi ibu dan memulai kembali karir dari nol, perlu usaha dan strategi yang berlebih dalam menjalaninya. Meskipun banyak tantangan, tetapi hal itu menjadi kebanggaan tersendiri karena menjadi bagian dari pengangkat derajat kerajinan tangan Indonesia yang sudah banyak ditinggalkan anak muda.

Bagi mbak Lina, perlu waktu sekitar lima tahun untuk mengangkat karirnya. Mulai berguru ke Jogja untuk mengenal batik, mempelajari teknik pewarnaan, hingga mempelajari sejarah budaya batik yang ada di daerahnya. Sekarang dengan prestasinya sebagai juara satu dalam mengangkat batik dari Jepara, dia mendedikasikan diri untuk mengenalkan batik ke dunia internasional.

Saya berhasil menemuinya di Jepang, mbak Lina akan melakukan workshop di Kyoto keesokan harinya.

Perjalanannya sebagai pembatik untuk sampai ke Jepang bukan ditempuh dalam waktu satu atau dua hari. Usaha bertahun-tahun dengan ketekunan dan jejaring kelompok mampu memberikan dampak bagi dirinya sampai saat ini. Oleh karena itu, bagi anak muda yang ingin menjadi bagian dari pelestari budaya dan mendukung kehidupan sehari-hari, lihatlah kerajinan Indonesia. Karena nama Indonesia sangat dikenal dengan kerajinan tangannya di Internasional, maka jangan takut untuk menjadi bagian dari pelestari budaya.

Padukanlah kemajuan teknologi, standar industri, analisis pasar dan ciri khas dari karya kalian untuk meraih kesuksesan.