Jejaring dan Kerekatan Sosial

Judul Buku: Ethnic Economies/ by Ivan Light and Steven J. Gold

Kalau kita mengikuti berita belakangan ini, ada masalah tentang penyediaan lapangan kerja. Ini masalah kritis, memang, mengingat Indonesia juga akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2030. Masalah kerja merupakan hal yang Alarming! (https://www.thejakartapost.com/news/2019/08/08/government-searches-for-ways-to-bridge-yawning-skills-gap.html)

Tahukah apakah bonus demografi itu? Saya membahasakan bonus demografi sebagai komposisi angkatan kerja -usia 15 tahun keatas sampai 60 tahun- yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan di luar usia tersebut. Jika dimanfaatkan secara baik, maka usia kerja tersebut dapat mendukung roda perekonomian.

Tetapi jika sebaliknya, penyediaan lapangan kerja tidak memenuhi kebutuhan penduduk usia produktif, maka yang terjadi adalah pengangguran. Apa jadinya jika komposisi penduduk mayoritas menjadi menganggur?

Meskipun pemerintah berperan penting untuk penyediaan lapangan kerja, namun beban tersebut tidak dapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab satu pihak saja. Realistislah, kita juga tidak dapat menunggu selamanya dari pemerintah. Jika tidak memiliki akses ke lapangan pekerjaan, bagaimana dengan mendirikan usaha sendiri?

Tulisan ini membahas tentang sebuah buku yang menganalisa mengenai pembentukan lapangan kerja atau unit usaha yang anggotanya memiliki keterikatan kelompok, baik asal negara ataupun daerah yang sama.

Buku tersebut menarasikan tentang pendirian perusahaan berbasis etnis di Amerika yang berasal dari kelompok imigran. Awalnya mendapat diskriminasi, baik dari pemerintah negara Amerika dan penduduk kulit putih yang lebih senang mempekerjakan karyawan dari sesama ras. Dan kemudian sampai diskriminasi tersebut dihapus atau semakin berkurang dari waktu ke waktu, disisi lain untuk menghadapi tekanan hidup tersebut kelompok migran mampu bertahan hidup dengan bantuan kerabat yang berasal dari sesama etnis.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? apakah ada bahan pembelajaran dari fenomena ethnic capital atau modal etnisitas atau kelompok dalam hal pendirian usaha atau pemberian lapangan kerja? apakah ada dampak buruk atau efek sampingnya?

Melalui ikatan kelompok , mereka mampu menyediakan lapangan kerja, tempat tinggal dan juga dukungan finansial. Ini disebut juga “ethnic capital” atau modal etnisitas dalam proses berwirausaha.

Memiliki aturan kelompok dan dipatuhi oleh individu dalam kelompok tersebut mampu mencegah terjadinya kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan seluruhnya, terutama masalah finansial. Itulah yang banyak kita dengar dengan koperasi di Indonesia. Anggotanya menyelamatkan diri sendiri dan mengorbankan eksistensi kelompok daripada keberlangsungan seluruhnya.

Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah dalam hal membangun organisasi ekonomi, aturan main kelompok perlu dibentuk dan ditegakkan. Modal sosial ini menjadi sarana utama agar perusahaan tidak selalu merugi. Selain itu, jadilah bagian dari individu yang mengambil peran dalam merekatkan kelompok. Jika lelah dicurangi dan lelah mengingatkan, hanya ada dua alternatif, anggota dikeluarkan atau anda keluar.